Oleh : Tengku Herman*
Ramadhan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026. Setiap tahun, bulan suci ini hadir dengan suasana yang hampir seragam: masjid mulai ramai, lantunan ayat suci menggema, dan ruang publik dipenuhi nuansa religius. Namun di balik repetisi atmosfer tersebut, ada pertanyaan mendasar yang sering terlewat: apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita, atau sekadar mengulang kebiasaan tahunan?
Ramadhan sejatinya bukan agenda musiman. Ia adalah fase rekonstruksi spiritual. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan kesadaran. Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim menegaskan bahwa siapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Frasa “karena iman dan mengharap pahala” menegaskan bahwa inti puasa terletak pada kualitas niat dan kesungguhan batin, bukan sekadar kepatuhan formal.
Dalam konteks ini, kesiapan menjadi kunci. Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Cabang Nagan Raya, kembali mengingatkan pentingnya menyambut Ramadhan dengan kesiapan lahir dan batin. Kesiapan lahir berarti menjaga kesehatan dan disiplin diri agar ibadah dapat dijalankan secara optimal.
Sementara kesiapan batin menuntut pengendalian lisan, penataan emosi, peningkatan ibadah, serta penguatan ukhuwah Islamiyah. Tanpa persiapan ini, Ramadhan mudah tereduksi menjadi ritual administratif yang hanya menggugurkan kewajiban.
Lebih jauh, puasa adalah pendidikan empati. Rasa lapar bukan sekadar ujian fisik, tetapi sarana memahami realitas kaum dhuafa. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan relevansinya sebagai instrumen keadilan sosial.
Ramadhan seharusnya memperluas kepedulian, bukan hanya memperpanjang daftar menu berbuka. Jika puasa berhasil melatih kesabaran sekaligus memperkuat solidaritas, maka dampaknya akan terasa pada tatanan sosial yang lebih adil dan beradab.
Pada akhirnya, Ramadhan selalu datang membawa peluang yang sama, tetapi tidak semua orang memperoleh transformasi yang sama. Perbedaannya terletak pada keseriusan dalam memaknainya. Jika setelah sebulan penuh tidak ada perubahan dalam integritas, kepedulian, dan kualitas ibadah, maka yang berubah hanyalah pola makan, bukan kualitas iman.
Ramadhan 1447 H adalah momentum, bukan sekadar kalender. Ia adalah kesempatan untuk memperbaiki relasi vertikal kepada Allah dan relasi horizontal kepada sesama. Pertanyaannya bukan lagi kapan puasa dimulai, melainkan sejauh mana kita telah menyiapkan diri untuk menjadikannya titik balik. Sebab Ramadhan tidak pernah kekurangan makna; manusialah yang sering kekurangan kesiapan.
(*)Tengku Herman merupakan Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Cabang Nagan Raya







