Daftar Isi
Oleh : Muji Ahmad Riazi*
Siang hari kita puasa, malam hari kita balas dendam. Begitulah kira-kira potret ibadah yang sering tampil di etalase keseharian kita. Lapar disimpan rapi sejak azan Subuh, lalu diledakkan habis-habisan saat beduk Magrib memanggil. Piring jadi saksi, gelas jadi korban, dan perut berubah menjadi medan tempur yang sesak.
Puasa, yang disyariatkan sebagai latihan mengendalikan nafsu, justru kerap kita ubah menjadi lomba maraton makan malam. Seolah-olah ada kontrak tak tertulis yang berbunyi: “Tahanlah lapar di siang hari, supaya kamu punya alasan sah untuk menghabiskan isi dunia di malam hari.” Padahal, pesan inti puasa bukan sekadar mengosongkan lambung, melainkan mengosongkan kesombongan, meredam syahwat, dan menata ulang selera hidup yang selama ini kebablasan.
Jebakan Psikologi Kompensasi
Ironisnya, lapar yang mestinya melembutkan jiwa malah melahirkan daftar menu yang panjangnya seperti doa qunut. Kita terjebak dalam “psikologi kompensasi,” sebuah perasaan bahwa karena kita sudah “menderita” seharian, maka kita berhak mendapatkan upah berupa kemewahan kuliner yang melimpah. Ada anomali ekonomi yang getir: di bulan di mana kita berhenti makan di siang hari, angka belanja justru melonjak berkali lipat. Kita tidak sedang memangkas konsumsi; kita hanya memindahkan jam makan dengan bunga keinginan yang sangat tinggi.
Maka terjadilah fenomena “puasa tematik”: siangnya menahan diri demi pahala, malamnya membalas diri demi gengsi. Meja makan berubah jadi panggung pamer nikmat, dan media sosial jadi album kenangan atas segala yang berlebihan. Kita sibuk mengunggah foto hidangan yang estetis, namun lupa mengunggah kesederhanaan ke dalam hati. Kita merayakan kenyang yang membuat napas tersengal, tapi mengabaikan makna yang seharusnya melapangkan jiwa.
Tragedi di Balik Sisa Makanan
Ada kontradiksi yang menyedihkan dalam ritual balas dendam ini. Di bulan yang katanya melatih empati kepada kaum dhuafa, angka sampah makanan (food waste) justru seringkali melonjak tajam. Mata kita jauh lebih lapar daripada perut kita. Kita memesan segalanya karena dorongan nafsu sesaat, lalu menyisakan sebagian besarnya di piring karena kapasitas lambung manusia ada batasnya. Di titik ini, puasa kehilangan kemuliaannya. Kita gagal berempati pada mereka yang lapar karena kita justru menciptakan tumpukan sampah dari rasa lapar yang kita buat-buat.
Lapar seharusnya menjadi guru sunyi. Ia mengajarkan empati pada mereka yang tak punya pilihan untuk kenyang; ia meruntuhkan keangkuhan bahwa kita selalu berhak atas segala hal; ia menenangkan syahwat yang biasanya berisik. Namun, kita sering memilih menjadikannya sekadar teaser, atau cuplikan pendek sebelum pesta besar dimulai. Empati kita menjadi amnesia sesaat setelah seteguk es sirup masuk ke kerongkongan.
Etika di Luar Waktu Magrib
Inti puasa bukanlah seni menahan lapar sementara, melainkan sebuah etika hidup yang durasinya jauh lebih panjang dari waktu Magrib. Lapar seharusnya melatih kita untuk tahu kapan harus berkata cukup, kapan harus berhenti, dan kapan harus berbagi. Kalau puasa berakhir pada kekenyangan yang menyulitkan ruku dan sujud, mungkin yang kita latih hanyalah teknik menunda rakus, bukan menundukkan nafsu. Kita hanya memenjara nafsu di siang hari, lalu melepaskannya seperti singa kelaparan saat matahari terbenam.
Ramadhan bukan tentang memindahkan jam makan, melainkan tentang mengubah cara kita memandang dunia. Ukuran keberhasilan puasa bukan terletak pada seberapa kuat kita menahan lapar di siang hari, melainkan pada seberapa tenang kita menghadapi hidangan di malam hari. Jika setelah sebulan penuh kita tetap menjadi pribadi yang rakus, reaktif, dan haus pengakuan, maka barangkali kita tidak sedang beribadah; kita hanya sedang melakukan diet medis yang dibalut ritus agama.
Menjinakkan Singa di Dalam Diri
Kemenangan sejati tidak ditemukan pada tumpukan makanan di atas meja saat berbuka, tetapi pada kemampuan kita untuk tetap merasa “cukup” bahkan ketika dunia menawarkan segalanya. Ujian terberat dari puasa bukanlah membiarkan perut kosong saat matahari masih tinggi, melainkan memastikan bahwa setelah Magrib tiba, hati kita tetap rendah hati dan tangan kita tetap ringan berbagi.
Jangan sampai kita memenangkan pertempuran melawan dahaga di siang hari, namun justru gugur secara tragis di depan piring makan sendiri. Sebab pada akhirnya, puasa adalah tentang mengosongkan ego agar hati punya ruang untuk tumbuh. Ia adalah tentang menjinakkan singa di dalam diri, bukan sekadar mengurungnya sampai matahari terbenam.
*Muji Ahmad Riazi Merupakan Pembelajar tanpa henti, sekarang mengabdikan diri sebagai Pendidik di Nagan Raya.








